Lampuhijau.id, Tangerang —
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, menggelar Mujahadah untuk Negeri dalam rangkaian Lailatul Ijtima’. Kegiatan yang diisi dengan pembacaan istighosah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut menjadi momentum memperkuat ukhuwah, konsolidasi organisasi, dan khidmah kebangsaan.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan dihadiri jajaran pengurus MWCNU, badan otonom (Banom), serta pengurus ranting NU se-Kecamatan Ciledug. Sejumlah ulama, tokoh masyarakat, dan unsur pemerintahan turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Mujahadah untuk Negeri tidak hanya menjadi ruang spiritual untuk memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa, tetapi juga menjadi forum untuk memperkuat sinergi antara NU, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga persatuan serta kondusivitas kehidupan sosial.
Camat Ciledug, Ayi Nuryadin, S.Kom., M.M., mengatakan keberadaan NU memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Menurutnya, kontribusi ulama dan santri telah menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan negara.
“Sejak berdirinya, NU selalu berpihak dan berkolaborasi dengan pemerintah. NU juga mendukung berdirinya NKRI. Banyak laskar pejuang berasal dari kalangan NU,” ujar Ayi.
Ia menilai peran ulama dan NU tetap strategis dalam menjaga persatuan masyarakat di tengah dinamika kehidupan sosial. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan perlu terus diperkuat.
“Ulama NU menjadi salah satu paku bumi Indonesia. Peran ulama dan NU harus terus dijaga dan diperkuat, terutama dalam membangun persatuan serta menjaga kondusivitas masyarakat,” katanya.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Ciledug, KH Achmad Muslih, menyampaikan apresiasi kepada seluruh ulama, pemerintah, pengurus NU, Banom, dan ranting yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi juga pada kebersamaan dan kemampuan membangun kolaborasi untuk kemaslahatan masyarakat.
“Atas nama MWCNU Ciledug, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan dan jajaran NU yang telah hadir. Kehadiran panjenengan semua menjadi energi bagi kami untuk terus menjalankan amanah organisasi,” ujar Achmad Muslih.
Ia mengatakan, doa dan ikhtiar harus berjalan beriringan. Istighosah menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, sementara kerja organisasi menjadi bentuk tanggung jawab sosial dalam memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Melalui Lailatul Ijtima’ini, kita memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, keberkahan, serta dijauhkan dari perpecahan. Setelah bermunajat, tugas kita adalah memperkuat ikhtiar melalui kerja organisasi dan pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya.
Perkuat Basis Data Organisasi
Dalam kegiatan tersebut, MWCNU Ciledug juga memaparkan sejumlah program organisasi, termasuk program yang dikembangkan bersama Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Ciledug.
Program diarahkan untuk memperkuat struktur organisasi, meningkatkan pelayanan kepada warga Nahdliyin, serta memperluas kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Sekretaris PCNU Kota Tangerang, KH Khairu Sofyan, S.H.I., menekankan pentingnya pendataan anggota NU secara berjenjang mulai dari tingkat ranting, MWCNU, hingga PCNU.
Menurutnya, data anggota merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun organisasi yang kuat dan mampu menyusun program secara tepat sasaran.
“Pendataan anggota harus dimulai dari ranting, kemudian MWCNU sampai PCNU. Pelaksanaannya harus mengikuti aturan dan sistem yang telah ditetapkan PBNU maupun PCNU,” kata Khairu.
Ia menegaskan, pendataan bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan instrumen strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi.
“Kalau organisasinya ingin kuat, datanya juga harus kuat. Ranting melakukan pendataan, MWCNU mengonsolidasikan, kemudian PCNU melakukan penguatan dan sinkronisasi,” ujarnya.
Menurut Khairu, penguatan organisasi juga harus diwujudkan melalui kaderisasi, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“NU harus hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Penguatan struktur harus berjalan seiring dengan penguatan program, kaderisasi, pelayanan sosial, dan pemberdayaan warga,” katanya.
Dorong Kolaborasi
Ketua MUI Kecamatan Ciledug, KH Salman Alfaris, M.Ag., turut mendorong MWCNU Ciledug memperkuat kolaborasi dengan MUI, pemerintah, dan berbagai lembaga kemasyarakatan
Menurutnya, kolaborasi lintas lembaga penting untuk memperluas kemanfaatan kegiatan keagamaan dan sosial serta menjaga kerukunan masyarakat.
“MWCNU dapat terus membangun kolaborasi dengan MUI, pemerintah, dan lembaga lainnya. Dengan sinergi yang baik, program keumatan akan lebih kuat dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” ujar Salman.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi forum konsolidasi program MWCNU Ciledug bersama LAZISNU. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat gerakan sosial, pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, serta pemberdayaan masyarakat.

Sejumlah tokoh hadir dalam Mujahadah untuk Negeri, antara lain Camat Ciledug Ayi Nuryadin, S.Kom., M.M.; Lurah Peninggilan Utara Agus Lesmana, S.Pd.SD.; Sekretaris PCNU Kota Tangerang KH Khairu Sofyan, S.H.I.; Ketua MUI Kecamatan Ciledug KH Salman Alfaris, M.Ag.; Ketua LAZISNU Kota Tangerang; Ketua Pagar Nusa Kota Tangerang; serta jajaran Mutasyar KH Mahmudim dan KH Imron Hariri.
Dari jajaran Rais Syuriah hadir KH Syarif Hidayat, KH Qosim, Ustaz Dr. H. Suripto, dan H. Kabiran. Hadir pula jajaran Banom dan pengurus ranting NU se-Kecamatan Ciledug.
Mujahadah untuk Negeri menjadi momentum untuk menyatukan dimensi spiritual dan sosial dalam gerakan NU.
Doa dan istighosah dipadukan dengan konsolidasi organisasi, penguatan pelayanan, serta pembangunan sinergi dengan pemerintah dan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, MWCNU Ciledug menegaskan komitmennya untuk terus menjaga ukhuwah, memperkuat organisasi, dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.
Khidmah kebangsaan bagi NU bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi menerjemahkan nilai keislaman dan kebangsaan ke dalam kerja nyata untuk persatuan, kemaslahatan umat, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(Srp)








